Kamis, 12 Juli 2012

BK Keagamaan


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Latar belakang dari pembuatan makalah tentang program, administrasi dan organisasi serta layanan-layanan bimbingan konseling keagamaan ini agar kita nantinya bisa melakukan proses bimbingan konseling dengan baik dan benar berdasarkan ketentuan yang ada. Untuk itu, ikuti pembahasan tentang program, administrasi dan organisasi serta layanan-layanan bimbingan konseling keagamaan dengan baik.
B.     Perumusan Masalah
1.      Agar mengetahui apa itu program bimbingan konseling keagamaan.
2.      Agar mengetahui apa itu administrasi dan organisasi bimbingan konseling keagamaan.
3.      Agar mengetahui macam-macam layanan bimbingan konseling keagamaan.
C.    Metode Penulisan
Research library, dengan mengutip dari buku-buku dan penyusun simpulkan dalam bentuk makalah.

D.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk  mengetahui apa itu program bimbingan konseling keagamaan.
2.      Untuk mengetahui apa itu administrasi dan organisasi bimbingan konseling keagamaan.
3.      Untuk mengetahui macam-macam layanan bimbingan konseling keagamaan.








BAB II
PEMBAHASAN
A.      Program Bimbingan dan Konseling Keagamaan
Program bimbingan dan konseling merupakan salah satu keharusan sebagai salah satu aspek pembaruan yang dipandang penting bagi penunjang suksesnya program pengajaran dan pendidikan tersebut.
Program-program bimbingan dan konseling agama, antara lain dapat disebutkan sebagai berikut.
1.        Bidang Kependidikan
Program-program bimbingan dan konseling dalam bidang pendidikan, antara lain sebagai berikut:
a.       Menyediakan kesempatan sebaik-baiknya kepada anak didik untuk menemukan minat, bakat serta kecakapannya dalam bidang studi, dan mendorong agar mereka suka meminta bimbingan dan nasihat kepada guru sebagai pembimbing agama (konselor) pada saat tertentu di mana mereka menemui permasalahan.
b.      Menyediakan informasi-informasi yang penting dan relevan dengan kegiatan studi lanjutan yang lebih sesuai dengan bakat, minat dan kapasitas masing-masing.Menyediakan fasilitas belajar anak serta pemberian bantuan dalam hal yang menyangkut kesulitan belajarnya dengan menunjukkan metode yang baik baginya.
c.       Menyediakan kesempatan bagi anak yang baru memasuki jenjang sekolah yang baru seperti dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama, atau dari sekolah menengah pertama ke sekolah menengah atas, dan seterusnya, untuk dapat menghindari dari masa transisi yang dapat menimbulkan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi baru baik fisik maupun personal.
2.        Bidang pekerjaan
            Bimbingan dan konseling dalam bidang pekerjaan menyediakan informasi tentang kesempatan memperoleh pekerjaan yang diharapkan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing individu anak, serta informasi tentang lapangan kerja yang diharapkan, dan juga usaha menolong mereka mendapatkan pekerjaan yang halal, nyaman, dan sebagainya.[1]
3.        Bidang Sikap dan Nilai-nilai
Bimbingan dan konseling dalam bidang sikap dan nilai sangat diperlukan. Menyediakan kesempatan bagi anak untuk dapat mengembangkan sikap dan nilai-nilai sesuai dengan idealis agama yang mendalam sehingga frame of religious reference (pola dasar hidup keagamaan) yang dapat diharapkan menjadi pengontrol segala aktivitas hidupnya dalam masyarakat.
4.        Bidang Kesehatan Jasmani dan Rohani
Program bimbingan dan konseling dalam bidang jasmani dan rohani antara lain sebagai berikut:
a.       Menyediakan kesempatan serta situasi di mana anak yang dibimbing akan terdorong kepada usaha yang berguna bagi kesehatan jasmani dan rohani.
b.      Memberikan motivasi kepada anak untuk memahami arti usaha preventif dan kuratif bagi kesehatan rohaniah dan jasmaniah.
5.        Bidang Pembinaan Kepribadian
Bidang pembinaan kepribadian antara lain diperlakukan dalam hal:
a.       Menyediakan informasi serta memberikan motivasi kepada anak bimbingan agar meningkatkan pembinaan serta pengembangan kepribadian yang sehat dan utuh.
b.      Mengembangkan inspirasi dan dorongan-dorongan yang timbul dari minat, perhatian pribadi individu yang memahami masalah perkembangan kepribadian anak.
c.       Menyediakan waktu secara periodic untuk konseling tentang persoalan-persoalan hidup pribadi anak di lingkungan sekolah.
6.        Follow Up Service (Tindak Lanjut Pelayanan Bimbingan)
Follow up service (kelanjutan pelayanan bimbingan) dalam hal ini mengandung arti evaluasi hasil pendidikan dari suatu jenjang pendidikan, karena program di bidang ini menyangkut penelitian terhadap lulusan sekolah, baik yang melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi maupun lulusan yang telah bekerja di dalam masyarakat.


7.        Target Bimbingan dan Konseling Agama
Target maksimal pada program bimbingan agama yaitu agar ajaran agama dapat berfungsi di dalam kehidupan sehari-hari anak didik, terutama setelah mereka menjadi anggota masyarakat sepenuhnya. Penghayatan terhadap ajaran agama secara positif menimbulkan kesadaran dan pengamalannya di dalam kehidupan sehari-hari masing-masing pribadi mereka. Di sinilah akan tampak bahwa pengajaran agama dengan pendidikan atau bimbingan agama merupakan perpaduan yang bulat yang dimanifestasikan dalam tingkah laku individu manusia.

B.       Organisasi dan Administrasi Bimbingan dan Konseling Agama
Organisasi bimbingan dan konseling dalam pengertian umum adalah suatu wadah atau badan yang mengatur segala kegiatan untuk mencapai tujuan bimbingan dan konseling secara bersama-sama. Me-manage bimbingan dan konseling dapat berarti kemampuan mendayagunakan semua sumber organisasi dan administrasi bimbingan yang sifatnya terbatas.
            Sumber-sumber organisasi sekolah yang perlu didayaguna dan berhasilgunakan antara lain kemampuan pengelolanya (guru pembimbing), kewajiban dan tugas kepala sekolah, guru mata pelajaran dan wali kelas serta staf administrasi sehubungan dengan bimbingan dan konseling, dana yang terbatas, bahan atau materi serta alat penunjang yang terbatas pula, waktu tatap muka secara formal dan komunikasi yang sangat jarang dengan siswa, dan kesempatan siswa yang hampir tidak ada.[2]
Untuk mencapai tujuan yang optimal dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah, maka diperlukan pengorganisasia kegiatan layanan bimbingan yang baik. pengorganisasian dalam pengertian umum berarti suatu bentuk kegiatan yang mengatur cara kerja, prosedur kerja, pola kerja atau mekanisme kerja kegiatan layanan bimbingan dan penyuluhan. Bimbingan dan penyuluhan tidak dapat terlaksana jika tidak diimbangi dengan organisasi yang baik. tanpa organisasi, itu tidak berarti tidak adanya suatu koordinasi, perencanaan, sasaran yang cukup jelas, control, serta kepemimpinan yang berwibawa, tegas dan bijaksana.
Agar pengorganisasian kegiatan bimbingan dan penyuluhan dapat mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang baik, di sekolah, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya :
1.    Semua personil sekolah meliputi kepala sekolah, koordinator bimbingan, guru pembimbing, guru mata pelajaran, wali kelas, dan staff administrasi bimbingan harus dihimpun dalam satu wadah, sehingga terwujudnya satu kesatuan cara bertindak dalam usaha membantu memberikan layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
2.    Mekanisme kerja, pola kerja atau prosedur kerja bimbingan di sekolah harus tungga, sehingga para siswa tidak menjadi bingung karena adanya berbagai bentuk layanan bimbingan atau layanan lainnya yang serupa tetapi dilaksanakan oleh petugas yang berbeda.
3.    Tugas, tanggung jawab, dan wewenang dari masing-masing petugas yang terlibat dalam pelaksanaan layanan bimbingan di sekolah harus dirinci dengan jelas, sehingga masing-masing petugas bimbingan akan dapat memahami dan mengerti kewajiban dan tanggung jawab masing-masing.
Jadi dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa pengorganisasian kegiatan bimbingan di sekolah juga  memiliki peranan kunci dalam menunjang keberhasilan pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan di sekolah.[3]
C. Jenis-Jenis Layanan Bimbingan Konseling
Berbagai jenis layanan dan kegiatan perlu dilakukan sebagai wujud penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sasaran layanan, yaitu peserta didik. Layanan tersebut meliputi :
1.      Layanan Orientasi
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik dan pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap peserta didik (terutama orang tua) memahami lingkungan (seperti sekolah) yang baru dimasuki peserta didik, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru ini.
2.      Layanan Informasi
Yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberika pengaruh yang besar kepada peserta didik (terutama orang tua) memahami dan menerima informasi (seperti informasi pendidika dan informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan sehari-hari sebagai pelajar, anggota keluarga, dan masyarakat.
3.      Layanan Penempatan dan Penyaluran
Yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya, penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan, atau program study, program pilihan, magang, kegiatan ekstrakurikuler) sesuai dengan potensi, bakat, minat serta kondisi pribadinya.
4.      Layanan Penguasaan Konten
Menurut Prayitno, layanan penguasaan konten merupakan suatu layanan bantuan kepada individu (siswa) baik sendiri maupun dalam kelompok untuk menguasai kemampuan atau kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar.
Tujuan layanan konten yaitu agar siswa menguasai aspek-aspek konten (kemampuan atau kompetensi) tertentu secara terintegrasi. Dengan penguasaan konten oleh siswa akan berguana untuk menambah wawasan dan pemahaman, mengarahkan penialian dan sikap, menguasai cara-cara tertentu, dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah-masalahnya.
5.      Layanan Bimbingan Belajar
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiaitan belajar lainnya, sesuai dengan perkembangan ilmu, tekhnologi, dan kesenian.
6.      Layanan Konseling Perorangan
Konseling perorangan berlangsung dalam suasana komunikasi atau tatap muka secara langsung antara konselor dengan klien (siswa) yang membahas berbagai masalah yang dialami klien. Pembahasan masalah dalam konseling perorangan bersifat holistic dan mendalam serta menyentuh hal-hal penting tentang diri klien (sangant mungkin menyentuh rahasia pribadi klien), tetapi juga bersifat spesifik menuju kearah pemecahan masalah.
Melalui konseling perorangan, klien akan memahami kondisi dirinya sendiri, lingkungannya, permasalahan yang dialami, kekuatan dan kelemahan dirinya, serta kemungkinan upaya untuk mengatasi masalahnya.
a.       Pelaksanaan Layanan Konseling Perorangan
            Layanan konseling perorangan memiliki beberapa tahapan kegiatan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, analisis hasil evaluasi, tindak lanjut, dan laporan.
Pertama, perencanaan meliputi kegiatan: mengidentifikasi klien, mengatur waktu pertemuan, mempersiakan tempat dan perangkat teknis penyelenggaraan layanan, menetapkan fasilitas layanan, menyiapkan kelengkapan administrasi.
Kedua, pelaksanaan meliputi kegiatan: menerima klien, menyelenggarakan penstrukturan, membahas masalah klien dengan menggunakan teknik-teknik, mendorong pengentasan masalah klien, memantapkan komkitmen klien dalam pengentasan masalahnya, melakukan penilaian segera.
Ketiga, melakukan evaluasi jangka pendek.
Keempat, menganalisis hasil evaluasi (menafsirkan hasil konseling
perorangan yang telah dilaksanakan).
Kelima, tindak lanjut yang meliputi kegiatan: menetapkan arah jenis tindak lanjut, mengomunikasikan rencana tindak lanjut kepada pihak-pihak terkait, dan melaksanakan rencana tindak lanjut.
Keenam, laporan yang meliputi kegiatan: menyusun laporan layanan konseling perorangan, menyampaikan laporan kepada kepala sekolah dan pihak terkait, dan mendokumentasikan laporan.[4]
b.      Tujuan Layanan Konseling Perorangan
            Tujuannya adalah agar klien memahami kondisi dirinya sendiri, lingkungannya, permaslaahan yang dialami, kekuatan dan kelemahan dirinya sehingga klien mampu mengatasinya. Dengan perkataan lain, konseling perorangan bertujuan untuk mengentaskan masalah yang dialami klien.
7.   Layanan Bimbingan Kelompok
           Layanan bimbingan kelompok merupakan suatu cara memberikan bantuan (bimbingan) kepada individu (siswa) melalui kegiatan kelompok. Dalam layanan bimbingan kelompok dibahas topic-topik umum yang menjadi kepedulian bersama anggota kelompok.
Fungsi utama bimbingan dan konseling yang didukung oleh layanan bimbingan kelompok ini adalah fungsi pemahaman dan pengembangan.
Tujuan Layanan Bimbingan Kelompok:
            Secara umum layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi peserta layanan (siswa). Secara lebih khusus, layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang perwujudan tingkah laku yang lebih efektif, yakni peningkatan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal para siswa.
8.      Layanan Konseling Kelompok
               Layanan konseling kelompok, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok, masalah yang dibahas itu adalah masalah pribadi yang dialami masing-masing anggota kelompok.
                           Layanan konseling kelompok merupakan layanan konseling yang diselenggarakan dalam suasana kelompok. Fungsi utama yang didukung oleh layanan konseling kelompok adalah fungsi pengentasan.[5]

9.      Layanan Konsultasi
Layanan konsultasi adalah layanan konseling yang dilaksanakan oleh konselor terhadap seorang konsulti yang memungkinkan memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakannya dalam menangani kondisi atau permasalahan pihak ketiga, Prayitno mengemukakan bahwa konsultasi pada dasarnya dilaksanakan secara perorangan dalam format tatap muka antara konselor dengan konsulti.
            Dalam layanan konsultasi ada tiga pihak yang tidak bisa dipisahkan, yaitu konselor, konsulti dan pihak ketiga, konselor merupakan tenaga ahli konseling yang memiliki kewenangan melakukan pelayanan konseling sesuai dengan bidang tugasnya, konsulti adalah individu yang meminta bantuan kepada konselor agar dirinya mampu menangani kondisi atau masalah yang dialami pihak ketiga yang setidak-tidaknya sebagian menjadi tanggung  jawabnya, sedangkan pihak ketiga adalah individu-individu yang kondisi atau permasalahan dipersoalkan oleh konsulti
Di lingkungan sekolah atau madrasah yang  menjadi konsulti adalah kepala sekolah atau kepala madrasah, guru-guru. Apabila yang menjadi konsulti adalah kepala sekolah maka pihak ketiganya adalah guru dan siswa, apabia yang menjadi konsulti adalah guru maka pihak ketiganya adalah siswa.[6]
Tujuan layanan konsultasi:
Secara umum layanan konsultasi bertujuan agar siswa dengan kemampuannya sendiri dapat menangani kondisi atau permasalahan yang dialami oleh pihak ketiga
Secara lebih khusus tujuan layanan konsultasi adalah agar konsulti memiliki kemampuan diri yang berupa wawasan, pemahaman, dan cara-cara bertindak terkait langsung dengan suasana atau permasalahan pihak ketiga.
10.  Layanan Mediasi
Istilah mediasi terkait dengan istilah media yang berasal dari medium yang berarti perantara. Menurut Prayitno layanan mediasi merupakan layanan konseling yang dilaksanakan konselor terhadap dua pihak atau lebih yang sedang dalam keadaan saling tidak menemukan kecocokan, berdasarkan makna ini layanan mediasi merupakan layanan atau bantuan terhadap dua pihak atau lebih yang sedang dalam kondisi bermusuhan.
Tujuan layanan mediasi:
Secara umum layanan mediasi bertujuan agar tercapai kondisi hubungan yang positif diantara para klien atau pihak-pihak yang bertikai atau bermusuhan.
Secara lebih khusus, layanan mediasi bertujuan agar terjadi perubahan atas kondisi awal yang negative menjadi kondisi baru yang positif dan kondusif.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Program-program bimbingan dan konseling agama, antara lain dapat disebutkan sebagai berikut.
1.      Bidang Kependidikan
2.      Bidang pekerjaan
3.      Bidang Sikap dan Nilai-nilai
4.      Bidang Kesehatan Jasmani dan Rohani
5.      Bidang Pembinaan Kepribadian
6.      Follow Up Service (Tindak Lanjut Pelayanan Bimbingan)
7.      Target Bimbingan dan Konseling Agama
Organisasi bimbingan dan konseling dalam pengertian umum adalah suatu wadah atau badan yang mengatur segala kegiatan untuk mencapai tujuan bimbingan dan konseling secara bersama-sama. Me-manage bimbingan dan konseling dapat berarti kemampuan mendayagunakan semua sumber organisasi dan administrasi bimbingan yang sifatnya terbatas.
Layanan-Layanan Bimbingan Konseling
1.      Layanan orientasi
2.      Layanan informasi
3.      Layanan penempatan dan penyaluran
4.      Layanan bimbingan belajar
5.      Layanan penguasaan konten
6.      Layanan konseling perorangan
7.      Layanan bimbingan kelompok
8.      Layanan konseling kelompok
9.      Layanan konsultasi
10.  Layanan mediasi

DAFTAR PUSTAKA

Munir Amin, Samsul. Bimbingan dan Konseling Islam. Jakarta, Amzah, 2010.

Ridwan. Bimbingan Konseling di Sekolah. Yogyakarta, Pustaka Belajar, 2004.

Ketut Sukardi, Dewa. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta, Rineka Cipta, 2002.

Tohirin. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, Jakarta, PT raja Grafindo Persada, 2007.

A., Hallen. Bimbingan dan Koseling, Jakarta, Quantum Teaching, 2005.




1 Munir Amin, Samsul, Bimbingan dan Konseling Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), h. 116
[2]  Ridwan, Bimbingan Konseling di Sekolah, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2004), h. 9

[3] Dewa Ketut Sukardi, Proses Bimbingan dan Penyuluhan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 32-33.
[4] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, (Jakarta: PT raja Grafindo Persada, 2007), hal. 169-170.
[5] Hallen A., Bimbingan dan Koseling, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), hal. 82
[6]Tohirin, Bimbingan dan Konseling Sekolah dan Madrasah,(Jakarta: PT Rajawali Pers, 2007) hlm 188

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar